Mineral

Kartel Minyak dan Kisah Penaklukkan Dunia

kartel minyak
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Masa-masa sebelum Perang Dunia II, sektor perminyakan dunia dikuasai oleh kartel yang menyebut dirinya sebagai Seven Sisters. Kartel ini beranggotakan perusahan minyak barat seperti  Exxon, Mobil, Chevron, Texaco, Gulf Oil, Shell, dan British Petroleum (BP).

Pada masa keemasannya, kartel ini mampu mengontrol 85% cadangan minyak dunia dan mendikte negara-negara penghasil minyak dari dunia ketiga. Setelah Perang Dunia II, kartel ini menguasai sumur-sumur minyak di Timur Tengah dan mengontrol harga minyak dunia.

Seiring dengan terjadinya banyak kemerdekaan yang melahirkan negara-negara baru di berbagai belahan dunia, perlawanan terhadap Seven Sisters mulai menampakkan dirinya. Pada akhir 1950-an dan  awal 1960-an, negara dunia ketiga yang menjadi produsen minyak akhirnya bersatu dan menolak kartel Seven Sisters. Mereka membentuk kartel minyak mereka sendiri, OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries). OPEC adalah sebuah kartel  minyak yang dibentuk untuk melawan kartel minyak yang lain. Melalui OPEC, negara-negara produsen minyak ini akan bersama-sama mengatur jumlah produksi mereka agar harga minyak tetap menguntungkan bagi mereka.

Namun pembentukan OPEC belum merepresentasikan suatu kemenangan kekuatan anti-imperialisme, sekalipun  OPEC menentang kartel minyak Barat. Kendati para pemimpin OPEC menggunakan retorika-retorika anti-imperialis, pada kenyataannya negara-negara ini hanya menjaga kepentingan mereka sendiri. Harga minyak yang tinggi hanya mengutungkan 12 negara OPEC dan merugikan banyak negeri miskin lainnya yang tergantung pada minyak. Terlebih lagi, keuntungan besar yang didapati oleh 12 negara OPEC ini hanya menguntungkan kelas atas di negeri-negeri tersebut, dan sedikit sekali yang mengalir ke rakyat jelata.

Akhirnya, perseteruan antara OPEC dengan kartel Barat Seven Sisters hanyalah perseteruan antara borjuasi nasional dan borjuasi asing untuk  menjarah kue migas yang lebih besar. Agenda mulia untuk mendistribusikan kemakmuran dari berkah kekayaan alam sektor migas pun diabaikan. Banyak rakyat dari negara-negara yang memiliki sumber daya alam melimpah, namun tetap hidup dalam himpitan kemiskinan, termasuk di Indonesia.

Menaklukkan Negara Penentang
Menyikapi OPEC, perusahaan-perusahaan besar yang tergabung dalam Seven Sisters  tidak lagi hanya aktif di satu bidang saja, tetapi mereka mulai merambah bisnis di banyak sektor. Mereka menemukan bahwa dengan mengontrol berbagai sektor industri, dari hulu hingga hilir, dari suplai bahan mentah sampai ke pemasaran produk akhir, mereka bisa mendapatkan dominasi absolut.

Dalam industri minyak, perusahaan-perusahaan minyak besar seperti ExxonMobile, Chevron, BP, dan Dutch Shell menguasai industri minyak dari hulu hingga hilir, sehingga walaupun mereka hanya memproduksi 10% migas di dunia mereka masih punya kontrol luar biasa besar atas seluruh industri migas dunia. Termasuk pula kontrol terhadap industri migas di negara-negara anggota OPEC.

Negeri-negeri kapitalis Barat yang memiliki kendali besar terhadap kapital dan pasar dunia dapat dengan mudah melakukan boikot dan meluluhlantakkan ekonomi negara-negara  yang menentangnya, salah satunya Kuba.

Setelah Fidel Castro beserta rakyat Kuba menumbangkan kediktatoran Batista, pemerintah Amerika segera melakukan boikot kapital dan embargo ekonomi kepada Kuba. Sebab, pemerintahan baru Kuba di bawah Fidel Castro yang membawa kepentingan politik  pro-rakyat ini dianggap sebagai ancaman.  Castro adalah antitesa Batista. Jika Batista melayani kepentingan Amerika di Kuba, maka Castro justru melawan kepentingan Amerika di Kuba.

Berkat Uni Soviet, ekonomi Kuba dapat terselamatkan dari boikot kapital dan embargo ekonomi yang dilakukan oleh seluruh negara kapitalis yang jadi sekutu Amerika. Namun perubahan politik dan problem ekonomi yang menyebabkan runtuhnya Uni Soviet dan negara-negara blok Timur pada akhirnya menjadikan Kuba terisolasi. Padahal 80 persen perdagangan Kuba adalah dengan Uni Soviet dan negera-negera dari blok Timur. Akibatnya, sejak tahun 1989 hingga 1993, GDP Kuba menyusut hingga 35 persen, ekspor menyusut 79 persen dan impor 75 persen.  Revolusi Kuba mengalami cobaan terbesarnya pada periode ini.

Sementara di Venezuela, Revolusi Bolivarian telah memberikan dorongan besar pada gerakan anti-imperialisme. Hugo Chavez dengan berani terus menentang kepentingan modal asing di Venezuela, terutama di sektor migas. Perlu diketahui bahwa Venezuela adalah eksportir minyak bumi kedua terbesar di dunia (15,2% produksi minyak di dunia). Kontrak-kontrak dengan perusahaan minyak asing direnegosiasi di mana pemerintah menuntut pembagian hasil yang lebih besar.

Dengan laba minyak ini Chavez mendanai program-program sosial yang menyediakan pendidikan gratis, kesehatan gratis, subsidi makanan untuk rakyat miskin, pembangunan perumahan rakyat dan lain sebagainya. Jutaan rakyat Venezuela terangkat dari lembah kemiskinan. Berkat kebijakan pro-rakyat miskin Chavez yang dijalankannya selama 14 tahun terakhir, Venezuela menjadi negara dengan koefisien Gini – indeks kesenjangan pendapatan dan kekayaan – terendah di Amerika Latin, yakni sebesar 0,39.

Namun demikian, sukses Chavez dalam mengatasi problem kemiskinan dan mendistribusikan kesejahteraan bagi rakyat Venezuela bukannya tidak mendapat tentangan. Kekuatan kapitalisme asing melalui agen-agen mereka di Venezuela dan di luar negeri, terus-terusan merongrong kekuasaan Chavez. Agen kapitalis di Venezuela yang masih menguasai berbagai sektor industri melakukan berbagai sabotase ekonomi, terutama sabotase dalam produksi dan distribusi bahan makanan sehingga menciptakan kelangkaan bahan makanan.

Sabotase ekonomi dengan menggunakan kekuatan modal besar macam ini sejalan dengan pesan Herry Kissinger pada CIA  dalam proyek penumbangan Presiden Salvador Allende tahun 1970-an di Chili. “Buat ekonominya menjerit,” begitu tulis Presiden Herry Kissinger.

Hal serupa juga dilakukan Amerika terhadap kekuasaan Soekarno di Indonesia, hingga operasi CIA di Chili tersebut dinamakan dengan Jakarta Operation, yang  memberi penegasan bahwa apa yang terjadi pada Allende adalah satu rangkaian dengan apa yang dialami oleh Soekarno.

Demi minyak, kartel minyak dunia mendanai berbagai upaya penaklukan negara-negara penghasil minyak dunia melalui berbagai cara. Dari sabotase ekonomi hingga pendudukkan brutal yang menewaskan ribuan rakyat sipil. Melalui “Spring Operation’, sebuah misi  yang dimaksudkan untuk menguasai sumber minyak dunia, maka diberikanlah legitimasi politik kepada AS dan sekutunya untuk menghancurkan rejim Saddam Hussein di Irak, Hosni Mobarrak di Mesir, Moammar Qadhaffy di Lybia, dan negara-negara penghasil minyak lain di Timur Tengah, Afrika, dan Asia. Banyak pihak meyakini bahwa “Spring Operation” ini tidak akan berakhir, hingga kartel minyak dunia bisa menguasai sumber minyak di Cina.

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar