Industri Hasil Tembakau

Hari Tanpa Tembakau Sedunia Tak Relevan

tembakau
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Tahun ini WHO mengangkat tema tobacco advertisement, promotion, and sponsorship banning (TAPS Ban). Menurut kelompok anti-tembakau, tema yang menolak iklan, promosi, dan sponsor rokok ini bertujuan untuk menekan masifnya TAPS yang dilakukan industri. Mereka juga menolak program CSR yang dianggapnya merupakan strategi perusahaan rokok untuk membujuk konsumen.

Tapi yang perlu digarisbawahi, bahwa tanpa dijadikan tema untuk kampanye anti-tembaku itu, pemerintah pun sebenarnya telah membuat berbagai peraturan perundang-undangan yang diterbitkan untuk membatasi iklan rokok. Dari larangan memperagakan wujud rokok, sampai membatasi penyiaran iklan rokok di radio dan televisi pada pukul 21.30 sampai dengan pukul 05.00.

Bagi industri rokok, mereka sepakat terhadap pembatasan iklan rokok itu. Industri rokok pun mendukung peraturan yang tujuannya untuk melindungi hak-hak anak ini. Tapi akan berbeda, jika aturan itu diubah dari hanya ‘pembatasan’ menjadi ‘pelarangan total’ iklan rokok.

Bagi perusahaan rokok besar, hal ini tidak akan banyak mempengaruhi kelangsungan industrinya. Mereka masih memiliki basis konsumen yang besar, dengan tingkat konsumsi rokok nomor tiga tertinggi di dunia, setelah Amerika Serikat dan Jepang. Perusahaan besar juga tidak perlu khawatir terjadi perebutan konsumen yang ada, karena seluruh pemain dilarang untuk promosi dan beriklan. Namun, larangan iklan, promosi, dan sponsor rokok akan membuat perusahaan kretek kecil semakin terdesak oleh perusahaan rokok internasional seperti Phillip Morris yang memiliki brand global, untuk lebih berjaya menguasai market Indonesia.

Selain mematikan industri rokok nasional, pelarangan total iklan rokok akan memukul industri periklanan. Pada 2010 yang lalu saja terdapat 163 titik papan reklame di Jakarta, 35 titik atau sekitar 21,4% digunakan oleh industri rokok. Hilangnya iklan rokok tidak akan tergantikan dengan iklan produk lainnya, karena pada saat ini masih terdapat kapasitas terpasang yang tidak digunakan. Jelas, larangan itu akan  mengurangi omzet dari perusahaan biro iklan yang memiliki klien perusahaan rokok.

Kemudian, larangan industri rokok menjadi sponsor sama saja dengan mematikan industri seni, budaya, dan kegiatan olah raga. Seperti diketahui, selama ini produsen rokok menjadi penyandang dana terbesar bagi berbagai acara seni dan olah raga. Pemerintah menunjukkan arogansinya dalam membuat peraturan itu. Pemerintah hanya mau enaknya saja. Di satu sisi negara melarang sponsor rokok, tapi di sisi lain negara enggan memberikan solusi atau absen dalam keterlibatannya dengan dunia yang terancam hancur itu.

Tuduhan kelompok anti-tembakau terhadap program Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan rokok yang hanya ingin mencari popularitas dan strategi membangun citra positif rokok juga merupakan tuduhan yang tidak mendasar. Pasalnya, kegiatan CSR industri rokok sudah dilakukan sejak puluhan tahun yang lalu. Setiap tahunnya dana pengeluaran CSR bisa mencapai ratusan miliar rupiah.

Melalui program ini perusahaan rokok telah memberikan sumbangsih pada kegiatan kebudayaan, lingkungan hidup, pendidikan, sosial, maupun olah raga di Indonesia. Bahkan tidak hanya dalam bentuk dana, tapi juga terlibat aktif mengembangkan kegiatan tersebut. Ketika dana APBN maupun APBD tidak memadai bila dibanding kebutuhan pengembangan di bidang-bidang tersebut, perusahaan rokok masuk untuk membantu mengisi kekurangan itu.

Sedangkan kelompok-kelompok anti tembakau yang didanai oleh perusahaan farmasi multinasional hanya mampu menghujat tanpa mampu memberikan kontribusinya terhadap masyarakat. CSR industri farmasi masih kurang memadai untuk membangun bidang-bidang strategis kemasyarakatan maupun kenegaraan.

Jadi, sangat tidak relevan bila tema dari WHO untuk memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia diterapkan di Indonesia. Selain sumbangsih yang besar dari industri rokok terhadap industri lain yang diabaikan pemerintah, larangan total terhadap iklan, promosi, dan sponsor rokok akan membuat jutaan petani tembakau terancam kehilangan pencahariannya. Pemasukan negara yang besar dari cukai tembakau pun akan berkurang.

Sumber gambar: Eko Susanto via Flickr

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar