Industri Hasil Tembakau

Empat Alasan Petani Menolak PP Tembakau

petani tembakau
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Berbagai reaksi muncul di sejumlah tempat terkait Peraturan Pemerintah (PP) nomor 109/2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau. Petani, aktivis, budayawan, ramai-ramai melakukan aksi penolakan tersebut. Berikut adalah alasan mengapa petani tetap menolak meski pemerintah keukeuh terhadap aturan yang dianggap demi kebaikan bersama ini.

1. Diversifikasi paksa pada petani
Secara umum, dalam PP tersebut tembakau dianggap sebagai barang adiktif sehingga petani dipaksa menanam tanaman lain. Idealnya, bila tembakau lokal dibatasi karena diduga membahayakan kesehatan, seharusnya tembakau impor juga harus dibatasi bahkan dilarang.

Namun, yang terjadi tidaklah demikian. Berdasarkan data BPS, November 2012, impor tembakau mencapai 120 ribu ton, telah melampaui separo lebih kebutuhan nasional yang mencapai 200 ribu ton.

Kontan, hal ini membuat petani marah dan menganggap pemerintah lebih mementingkan asing. Di satu sisi, PP ini memaksa petani untuk tidak menanam tembakau. Di sisi lain, tembakau impor dibebaskan masuk ke Indonesia tanpa dikenakan bea masuk.

2. Standardisasi kadar tar dan nikotin dalam tiap batang rokok
Salah satu isi PP Tembakau yang dianggap merugikan adalah pengaturan standardisasi kadar tar dan nikotin dalam tiap batang rokok yang tertera pada Pasal 10 hingga 12. Aturan ini membuat industri kretek kecil dan menengah terpukul. Pasalnya, kretek memiliki kadar tar dan nikotin yang tinggi, terlebih kretek hasil lintingan tangan. Jelas hal ini amat menguntungkan tembakau asing yang kadar tar-nya lebih rendah.

Untuk menanggulangi masalah itu, menurut Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (Gappri), industri kretek harus mengubah penggunaan tembakaunya menjadi jenis tembakau Virginia. Namun, ketika itu harus diubah, mau tidak mau akan mengubah cita rasa kretek yang kental dengan tembakau lokal dengan resep-resep rahasianya.

3. Keran Impor Tembakau Terbuka Lebar
Dengan adanya standarisasi kualitas tembakau, dipastikan jumlah tembakau impor akan melonjak.

Menurut data APTI, impor tembakau dalam beberapa tahun terakhir selalu melonjak. Pada 2003, volume impor tembakau hanya 23 ribu ton. Sementara, pada 2011 naik menjadi 91 ribu ton dan pada 2012 impor tembakau menembus 100 ribu ton.

Semakin bertambahnya impor tembakau akan memukul harga tembakau di kalangan petani lokal. Misal pada 2012 lalu, ketika impor tembakau cenderung meningkat, harga tembakau terkoreksi 20-35% dibandingkan 2011.

4. Picu Kenaikan Biaya Produksi
Ada ketentuan bahwa harus mencantumkan gambar dan tulisan peringatan sebesar 40 persen pada kemasan, di mana setiap varian harus menggunakan satu gambar. Bila suatu industri rokok mempunyai varian yang banyak, dipastikan akan menambah ongkos produksi.

Bagi industri besar, aturan ini tidak berpengaruh. Tapi ini sangat berdampak bagi industri rokok kecil dan menengah. Selain harus membayar cukai yang tinggi, perusahaan cilik juga diwajibkan mengikuti aturan yang memberatkan tersebut. Diprediksi dalam lima sampai sepuluh tahun mendatang jumlah industri rokok skala kecil dan menengah akan menyusut.

Padahal industri rumahan inilah yang menjadi harapan terakhir petani dalam menjual tambakaunya di tengah persaingannya melawan arus impor.

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar