Industri Hasil Tembakau

Diskriminasi Pemerintah pada Petani Tembakau

petani tembakau
Membunuh Indonesia
Ditulis oleh Membunuh Indonesia

Eksistensi pemerintah terhadap keberadaan petani tembakau patut dipertanyakan. Di satu sisi, pemerintah menikmati hasil cukai tembakau yang meningkat tiap tahunnya. Di sisi lain banyak kebijakan pemerintah yang tidak memberikan perlindungan terhadap petani tembakau, misalnya subsidi pupuk yang tidak boleh diberikan untuk tanaman tembakau. Bila petani mendapat sedikit perhatian pemerintah, tentu akan meningkatkan produksi tembakau petani.

Berbeda dengan di Indonesia yang terus disia-siakan, petani tembakau di sejumlah negara industri maju benar-benar ‘dimanja’. Negara-negara Uni Eropa paham bahwa industri tembakau merupakan komoditi yang bernilai besar. Selama beberapa dekade terakhir, Uni Eropa telah menerapkan kebijakan subsidi untuk meningkatkan produksi tembakau. Subsidi untuk petani tembakau di Uni Eropa saat ini mencapai 1 miliar euro per tahun. Bahkan parlemen Uni Eropa telah setuju untuk meningkatkan subsidi tembakau setiap tahunnya.

Sebagai salah satu negara penghasil tembakau terbesar, pemerintah AS pun tidak tinggal diam. AS memberikan subsidi tembakau sebesar 203 juta dollar AS pada tahun 2009. Sebagian besar subsidi itu diterima oleh perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di AS, baik yang bersifat langsung atau tidak langsung. Kesemuanya itu ditujukan untuk membantu sektor tembakau dari level produksi sampai dengan perdagangannya.

Sedangkan di Indonesia, seiring dengan pelaksanaan neoliberalisme yang kian masif, membuat subsidi bagi para petani tembakau dihilangkan. Selain itu, dengan kebijakan harga tembakau yang diserahkan kepada mekanisme pasar, tak ayal makin merugikan sektor pertanian. Pertanian tembakau praktis tidak terurus sama sekali.

Sampai saat ini kepentingan petani tembakau kurang terakomodasi. Petani tembakau dibiarkan hidup mandiri, tidak ada fasilitas pemerintah yang diberikan kepada para petani. Selain itu, petani tembakau juga tidak mendapat akses kredit yang mudah. Sulitnya mendapat kredit, menyebabkan petani terpaksa meminjam dana kepada para tengkulak atau rentenir yang kerap berbuat semena-mena. Terlambat saja membayar tunggakan, hutang itu akan berbunga dan semakin mencekik hidup petani.

Hal yang cukup pelik juga melanda petani tembakau di Nusa Tenggara Barat (NTB). Sebagai salah satu kantong potensial bagi ketersediaan stok tembakau jenis Virginia, petani di wilayah ini amat terdesak ketika subsidi minyak tanah dihentikan oleh pemerintah. Sekitar 80% produksi tembakau Virginia berasal dari sini. Untuk dapat menghasilkan tembakau terbaik dibutuhkan proses pengomprongan atau pengovenan yang memerlukan bahan bakar. Kebanyakan petani disini menggunakan minyak tanah dalam proses oven ini.

Mengutip pernyataan Sekjen Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), Budidoyo, bahwa pemerintah seharusnya dapat lebih peduli terhadap nasib petani tembakau dengan tidak mematikan roda kehidupan yang selama ini mereka jalankan. Karena tambakau ini saling berkaitan dengan yang lainnya, apalagi negara juga diuntungkan dengan tembakau ini.

Sumber gambar: Eko Susanto via Flickr

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar