Industri Hasil Tembakau

Tari Kretek

tari-kretek

Kabupaten Kudus yang berada di Jawa Tengah sekilas tampak biasa. Tak begitu banyak orang yang tahu dengan pamor kota yang terkenal dengan gelar Kota Kretek.

Terbagi atas 9 kecamatan, 123 desa dan 9 kelurahan, menghantarkan Kota Kretek yang kaya akan beraneka ragam hal yang bisa menjadikannya populer, sedikit terabaikan dibanding kota-kota lain di Provinsi Jawa Tengah. Tak hanya menawarkan keanekaragaman kuliner khas Kudus seperti soto kudus, jenang ataupun sate kerbau khas Kudus, Kudus menawarkan sebuah produk seni budaya yang elok, Tari Kretek.

Tari Kretek adalah tari asli Kudus. Menceritakan tentang proses pembuatan rokok secara tradisional di daerah tersebut. Tari Kretek adalah sebuah tari kolosal dengan minimal jumlah pemain adalah sebanyak lima orang.

Seperti halnya tari tradisional khas Jawa lainnya, tari ini pun mengenal beberapa patokan-patokan dalam ’lakon’ atau peran yang dibawakan. Terdiri dari mandor, penjor (asisten mandor), dan beberapa penari wanita.

Setiap pelaku memiliki tugas-tugas yang berbeda-beda. Seorang mandor yang notabene adalah pemimpin buruh rokok tersebut mulai memasuki panggung sejak awal cerita. Seorang mandor memiliki tugas untuk menyiapkan semua piranti lalu menanti anak buahnya untuk datang.

Mandor diperankan oleh seorang penari laki-laki. Seorang mandor, biasanya diikuti oleh dua atau lebih penjor atau asisten mandor. Tugas penjor adalah membantu mandor untuk mengawasi kerja anak buahnya.

Sedangkan jumlah penari wanita, bisa disesuaikan. Para penari wanita menari memvisualisasikan bagaimana proses pembuatan rokok kretek. Mulai dari memilih tembakau, merapikan batang rokok dengan memotong bagian ujungnya, hingga mengantarkannya ke seorang mandor laki-laki untuk diperiksa.

Gemulai gerakan tangan para penari menggambarkan bagaimana cekatan dan terampilnya para buruh bathil dalam membuat dan melinting setiap batang rokok kretek. Pencipta tarian ini, Endang Tonny, tak lupa menyelipkan gerakan-gerakan ”genit” dalam lenggak-lenggok penari perempuan.

Konon, begitulah upaya buruh rokok perempuan menarik hati para mandor agar rokok kretek yang dibuatnya lolos sortir. Para buruh baru bisa tersenyum lega ketika melihat sang mandor puas melihat rokok yang diperiksanya. Tak jarang juga para mandor memasang muka masam melihat buruknya kualitas bentuk rokok buatan tangan tersebut. Jika sang mandor sudah tersenyum, atau mesam-mesem, bisa dipastikan rokok akan lolos sortir.

Karena tingkah para buruh bathil tersebut, maka muncul guyonan agar rokoknya tak banyak disortir, pembathil harus ”menggoda” para mandor dengan senyumannya. Sang mandor tak kalah genit.

Ia kerap tebar pesona agar para buruh bathil, terutama yang cantik-cantik, jatuh hati padanya. Sang mandor digambarkan selalu mondar-mandir mengelilingi penari perempuan. Mereka memeriksa setiap pekerjaan para buruh perempuan. Tak jarang mereka bertolak pinggang menunjukkan kekuasannya.

Tarian ini jelas menunjukkan bahwa kretek adalah budaya Indonesia. Tapi ironisnya, tari tradisional perlahan sudah mulai dilupakan dan ditinggalkan.

 

Sumber foto: kudusexplore.com

Tentang Penulis

Harry S. Waluyo

Harry S. Waluyo

Penikmat kopi, pecinta harmonika

Tinggalkan komentar