Lain-Lain

Intoleransi Menjamur Memecah-Belah Masyarakat

ironi

Di tengah kondisi ekonomi yang kian terhimpit, ruang hidup yang makin tergusur, sumber daya alam yang dikuasai investasi dan program mega pembangunan yang menyengsarakan masyarakat, intoleransi menjamur untuk memecah gerakan-gerakan rakyat. Penyebaran pesan kebencian oleh kelompok intoleran terhadap kelompok beragama lainnya menjadi isu seksi. Mengalahkan isu-isu mendasar tentang perampasan ruang hidup yang kian masif.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang sudah memasuki tahap ketiga, berlangsung dari tahun 2015 dan berakhir di tahun 2019. Tahapan ini merupakan tahapan yang memantapkan pembangunan secara menyeluruh di berbagai bidang dengan menekankan pencapaian daya saing kompetitif perekonomian yang berlandaskan pada keunggulan sumber daya alam dan sumber daya manusia berkualitas serta kemapuan iptek yang terus meningkat.

Deputi Sarpras Bappenas memaparkan pada 21 April 2015 bahwa dalam tahapan ini terdapat 3 targetan besar untuk pembangunan infrastruktur,yaitu pembangunan infrastruktur dasar, pembangunan konektivitas, dan pembangunan ketahanan air. Untuk mencapai target dalam pembangunan infrastruktur dasar, pemerintah akan meningkatkan akses Air Minum Layak 100%, meningkatkan akses Sanitasi Layak 100%, menekan jumlah kawasan kumuh perkotaan hingga nol hektare (ha).

Sedangkan untuk pembangunan konektivitas di antaranya meningkatkan kondisi mantap jalan nasional mencapai 98%, jalan provinsi 75% serta jalan kabupaten 65%, pembangunan jalan nasional sepanjang 45.592 km, jalan baru sepanjang 2.650 km, dan pengembangan jalan tol sepanjang 1000 km. Semua targetan pembangunan tersebut tersebar di seluruh pulau di Indonesia.

Dalam pembangunan sektor unggulan ketahanan pangan, pembangunan dan peningkatan jaringan irigasi air permukaan, air tanah dan rawa mencapai 9,89 juta ha, rehabilitasi jaringan irigasi permukaan, air tanah dan air rawa 3,01 juta ha, pembangunan dan peningkatan irigasi tambak 304,75 ribu ha, serta pembangunan 49 waduk.

Hal tersebut tentunya berdampak pada perampasan dan penggusuran ruang hidup di berbagai wilayah. Di kota-kota besar, wilayah pemukiman padat menjadi sasaran untuk digusur dengan dalih relokasi. Hal tersebut tentu saja mengacu pada penekanan kawasan kumuh perkotaan hingga nol hektare.

Di desa-desa, lahan pertanian, perkebunan yang menjadi sumber penghidupan juga perkampungan menjadi sasaran untuk membangun berbagai infrastruktur seperti bandara, jalan tol, waduk, pabrik, yang tentunya mengorbankan kehidupan masyarakat.

Namun, sebagian besar masyarakat saat ini lebih tertarik untuk mengurusi kebencian terhadap keyakinan dan agama yang berbeda. Pemerintah pun tampak sekali memanfaatkan situasi agar masyarakat terpecah-belah. Aparat seakan melindungi para pelaku intoleran agar mereka leluasa untuk melakukan aktivitasnya. Kebhinekaan hanya menjadi pajangan di kaki garuda. Kaum intoleran lupa bahwa Indonesia bukan milik salah satu suku, ras, dan agama tertentu.

Dugaan adanya pengorganisiran yang sitematis perihal aktivitas intoleransi perlu ditelaah lebih terperinci. Upaya tandingan untuk mereproduksi wacana toleransi pada masyarakat juga perlu dilakukan. Agar masyarakat paham mengenai pentingnya keberagaman dan tidak terjebak dalam isu sara.

 

Sumber gambar: Array

Tentang Penulis

Array

Array

Pesepeda, penjual komik, pemuda Pangalengan.

Tinggalkan komentar