Industri Hasil Tembakau

Ico Ugi Rokok Khas Tanah Bugis

ico-ugi

Rokok telah menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia. Tiap daerah mempunyai tembakau khas yang berkualitas. Memiliki keunikan aroma tersendiri dan tidak tergantikan dengan tembakau daerah lain.

Saat ini kretek khas Jawa telah mendunia. Tapi di luar itu juga ada jenis-jenis rokok yang tak kalah uniknya. Salah satunya adalah ico ugi, rokok khas dari tanah Bugis.

Dalam bahasa Bugis, ico berarti tembakau. Ico ugi secara harafiah berarti tembakau Bugis. Berbeda dengan kretek, rokok ini tidak menggunakan cengkeh sebagai campuran. Bahan bakunya adalah tembakau dan gula merah.

Campuran yang membuat karakter rasanya sangat unik dan berbeda. Bila kretek menyisakan cita rasa pedas khas cengkeh, maka ico ugi beraroma gula merah. Ico ugi mengeluarkan bunyi “kerutup” bila dihisap.

Rokok khas ini sekarang sudah sulit ditemukan. Anda mungkin bisa menemukannya di Pasar Camba, Pasar Bantimurung, dan beberapa pasar di Barru bila beruntung.

Saat ini kuantitas ico ugi memang menurun dibandingkan dengan masa keemasannya yang terjadi sekitar era 1970-an, terutama di daerah Soppeng.

Mula-mulanya tembakau dikeringkan di bawah terik matahari. Tembakau yang kering kemudian dicampur gula aren (gula merah). Setelah itu dimasukkan ke dalam sebuah bambu. Bambu yang digunakan pun tidak sembarangan. Ini demi mempertahankan cita rasa ico ugi yang sejak dulu tidak berkurang sedikit pun. Bambu pun hanya berasal dari petani bambu asal Toraja.

Di dalam bambu ini tembakau harus disimpan. Jika tidak, maka tembakau itu akan rusak dan akan sulit untuk dipasarkan. Pada proses terakhir, tembakau harus dipanggang di atas bara api yang berasal dari serbuk kayu hingga 24 jam.

Pada masa kejayaan ico ugi, pabrik bisa memproduksi hingga 560 bambu. Masing-masing bambu berukuran setengah meter dengan diameter yang lebar. Harganya dibandrol Rp80 ribu per bambu.

Tidak hanya bambu yang harus berasal dari petani Toraja, bahan lainnya seperti tembakau juga berasal dari luar Kota Makassar. Bahan tembakau diambil dari tangan terlatih di desa-desa petani tembakau “Adidie” asal Cabbenge Kabupaten Soppeng. Di sana petani tembakau bermukim dan telah menjadi mitra bagi usaha pabrik ico ugi selama ini. Bahkan hingga kini petani tembakau Cabbenge masih memproduksi tanaman tambakau walau jumlahnya sudah tidak seperti dulu lagi.

 

Sumber foto: indraabriyanto.blogspot.co.id

Tentang Penulis

Harry S. Waluyo

Harry S. Waluyo

Penikmat kopi, pecinta harmonika

Tinggalkan komentar