Industri Hasil Tembakau

Tembakau dan Cengkeh Identitas Nasional

tembakau-identitas

Belum pernah ada industri  yang memberikan kontribusi sebegitu besar dan prestasi segemilang industri rokok dalam berbagai kegiatan sosial dan kebudayaan selain juga kontribusinya bagi ekonomi dan pendapatan negara.

Demikian pula, industri pengolahan tembakau dan cengkeh tidaklah menjadi kontribusi utama bagi pemanasan global (global warning) dan efek rumah kaca (green house effect) seperti polusi udara yang bersumber dari kegiatan transportasi yang menggunakan kendaraan bermotor seperti mobil, sepeda motor, bus, truk, kereta api, dan pesawat yang terus bertambah memproduksi emisi gas buang, sehingga di atmosfer meningkat intensitas efek rumah kaca.

Industri pengolahan tembakau dan cengkeh bukan hanya sebagai bentangan ekonomi yang digerakkan oleh lapisan petani dan buruh tembakau dan cengkeh yang tersebar di banyak daerah maupun perusahaan-perusahaan pabrik rokok di Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, yang menyumbang pendapatan negara. Namun juga terkait dengan kebudayaan yang mencirikan identitas nasional sebagaimana kaitan cerutu dengan Kuba, wine atau minuman anggur dengan Perancis, vodka dengan Rusia, jam tangan dengan Swiss, otomotif dengan Jepang dan Jerman, sepakbola dengan Inggris atau Brazil, serta industri film dengan AS, India, dan Hongkong yang kesemuanya menembus tapal batas negeri atau menyebar sebagai produk secara internasional.

Sejak dulu Nusantara terkenal dengan rempah-rempah seperti pala, cengkeh, kayu manis, jahe, jinten, kemiri, kunyit, dan lada, atau merica. Rempah-rempah ini tidak hanya digunakan sebagai bumbu dapur atau penyedap rasa, namun juga biasa digunakan untuk pengobatan. Rempah-rempah ini pun menjadi buah bibir yang menembus ke telinga pelaut-pelaut Eropa, tidak kalah dengan emas batangan. Sebagai surga rempah-rempah, para pelaut dan pedagang Portugis dan Spanyol sempat mencicipi keuntungan yang ditarik dari Maluku pada abad ke-16, sebelum perusahaan kongsi dagang Belanda VOC mengambil alih secara monopoli atas perdagangan rempah-rempah pada awal abad ke-17.

Dengan monopoli inilah VOC sukses memetik surplus perdagangan yang luar biasa yang dihisap oleh industri farmasi dan keuntungan dagang lainnya. Dari rempah-rempah ini pula, cengkeh dan kayu manis, kelak menjadi bahan baku dalam produksi rokok kretek. Cengkeh juga yang menjadi ilham bagi Minggus Tahitoe untuk menciptakan lirik lagu “Bila Cengkeh Berbunga”.

Bukan cuma rempah-rempah yang diangkut ke Eropa sesudah VOC bangkrut, namun juga daun tembakau yang ditanam secara besar-besaran lewat program kerja rodi dalam Sistem Tanam Paksa – dipelopori oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch – selama 1830–1870 bersama produk tanaman kopi, tebu, dan nila (indigo), juga teh, kayu manis, dan lada.

Dalam penanaman tembakau dikerahkan sebanyak 37.000 keluarga di atas luas lahan 4.000 bahu yang tersebar di Rembang, Kedu, Pasuruan, dan Banyuwangi. Dari hasil kerja rodi ini berhasil ditarik ratusan juta pound oleh pemerintah Hindia Belanda untuk menutupi utang-utangnya dan diangkut ke negeri Belanda.

Karena bagi pemerintah kolonial Hindia Belanda, sistem ini berhasil luar biasa. Dalam periode 1831–1871, Batavia tidak hanya bisa membangun sendiri, melainkan juga punya hasil bersih 823 juta gulden untuk kas di Kerajaan Belanda. Umumnya, lebih dari 30 persen anggaran belanja kerajaan berasal kiriman dari Batavia. Pada 1860-an, 72 persen penerimaan Kerajaan Belanda disumbang dari Oost Indische atau Hindia Belanda. Langsung atau tidak langsung, Batavia (Jakarta) menjadi sumber modal. Misalnya, membiayai kereta api nasional Belanda yang serba mewah. Kas kerajaan Belanda pun mengalami surplus.

Dari tembakau pula muncul grup musik reggae Jamaican Smoke yang mengalunkan lagu mengisap tembakau berjudul “Gara-Gara Rasta”. Harum dan cita rasa tinggi jenis tembakau Temanggung, srintil, yang lagendaris itu telah pula mengilhami Ahmad Tohari menokohkan Srintil yang dinobatkan sebagai penari ronggeng dalam novelnya, Ronggeng Dukuh Paruk.

Kendati banyak surplus yang ditarik keluar dari Hindia-Belanda dan para pengusaha Belanda juga tidak berkepentingan melakukan industrialisasi kecuali hanya sebagai enclave (produksi kantong ekspor), namun buah dari produksi cengkeh dan tembakau secara besar-besaran itu juga membawa perkembangan baru dalam industrialisasi. Haji Djamhari mengilhami tumbuhnya produksi ‘rokok cengkeh’ pada akhir abad ke-19.

Pada awal ke-20 ditandai bangkitnya industri rokok kretek. Industri inilah yang mempunyai kaitan hulu ke hilir yang tidak dikuasai oleh para pengusaha Belanda, sehingga membentuk kemandirian yang kuat, karena tidak bergantung pada impor bahan baku atau setengah jadi, sehingga kini sukses merebut masa keemasannya.

 

Sumber foto: Eko Susanto

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar