Industri Hasil Tembakau

Rendahnya Posisi Tawar Tembakau Bondowoso

petani-tembakau-bondowoso

Rendahnya posisi tawar yang disebabkan oleh sistem oligopsoni dirasakan oleh petani tembakau di Bondowoso. Oligopsoni sendiri merupakan sistem pasar yang dikuasi oleh beberapa pembeli. Dalam pasar ini jumlah penjual lebih banyak dibandingkan pembeli. Dengan sistem ini pembeli (yakni perusahaan)  dapat menolak untuk tidak membeli barang dari penjual, dalam hal ini petani tembakau.

Sistem oligopsoni juga tidak memiliki kekuatan untuk mengubah atau menaikkan harga tawar pembelian tembakau. Petani hanya bisa menerima harga dari perusahaan. Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Bondowoso, M. Yazid, mengatakan bahwa pihaknya memang tidak dirugikan, namun pihak perusahaan kurang memahami kondisi lapangan, iklim, biaya, dan analisis usaha tani.

Pemerintah daerah harus memperhatikan nasib petani tembakau. Perlu adanya perundingan antara petani, pemerintah, dan perusahaan untuk menganalisa serta menentukan harga pembelian tembakau. Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag), merupakan leading sektor yang seharusnya menangani pasca tanam tembakau, termasuk urusan untuk melakukan negosiasi dengan perusahaan.

Diskoperindag terkesan tidak mau ikut campur masalah pembelian tembakau. Terkesan selalu tiarap dan cenderung cari aman. Diskoperindag merasa tidak dilibatkan dalam menentukan harga tembakau oleh petani dan perusahaan.

Harga tembakau yang dipatok perusahaan saat ini berada pada kisaran Rp15.000 hingga Rp35.000 per kilogram. Informasi lain menyatakan, PT Sadhana Arif Nusa gudang Pancoran saat ini tengah melakukan pembelian tembakau mitra perusahaan dengan harga terendah Rp17.000 dan harga tertinggi Rp35.000 per kilogram.

 

Sumber gambar: Array

Tentang Penulis

Array

Array

Pesepeda, penjual komik, pemuda Pangalengan.

Tinggalkan komentar