Pangan

Setan Tengkulak dan Swasembada Pangan

padi

Berbagai program terus dilakukan pemerintah untuk mencapai target swasembada pangan. Anggaran untuk sektor pertanian terbilang besar. Tetapi mekanisme pasar masih dikuasai kartel, terutama soal harga. Inilah penyebab harga pangan tidak menentu dan cenderung mahal ketika sampai pada konsumen.

Pengamat pertanian Universitas Sumatera Utara (USU) Prof. Abdul Rauf mengatakan, swasembada pangan bukan cuma persoalan hulu. Ketika produksi tinggi tapi sampai ke masyarakat mahal itu namanya bukan swasembada pangan. Pekerjaan besar pemerintah adalah rantai distribusi. Bagaimana cara memotong para kartel pangan.

Usaha terkait distribusi yang dilakukan pemerintah di antaranya melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) yang kini tersebar hingga kabupaten/kota. Juga adanya pembangunan Toko Tani Indonesia (TTI) yang diproyeksikan dalam jangka panjang menjaga harga pangan. Sialnya, jika usaha tersebut tetap dihantui para setan tengkulak dan oknum mafia sektor pangan, akan tetap sulit mengendalikan harga. Dan swasembada tidak akan pernah tercapai.

Sebagai contoh di Sumatra Utara, sektor pertanian menjadi penyumbang perekonomian di samping sektor industri pengolahan serta perdagangan, hotel, dan restoran (PHR). Tapi dibandingkan pelaku industri pengolahan dan PHR, petani sebagai bagian terbesar justru tidak mendapat keuntungan dan tidak terjamin kesejahteraannya. Hal ini bisa terlihat dari tingkat kemampuan atau daya beli petani yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).

Petani dibiarkan dan dilepas dengan rantai distribusi yang panjang dan “nasibnya” ditentukan oleh mekanisme pasar. Kondisi ini akan tetap memiskinkan petani. Pemerintah harus bertindak sebagai penyangga agar petani tetap untung sekaligus mewujudkan swasembada pangan. Begitu pula apabila infrastruktur tidak mendukung, pasokan barang dengan harga terjangkau belum bisa tersedia dengan merata.

 

Sumber foto: Pixabay

Tentang Penulis

Harry S. Waluyo

Harry S. Waluyo

Penikmat kopi, pecinta harmonika

Tinggalkan komentar