Hasil Laut

Penangkap Gurita dari Pulau Barrang Caddi

Mengarungi perairan Pulau Barrang Caddi-Arpan Rachman

bukan lautan hanya kolam susu
kail dan jala cukup menghidupimu
tiada badai tiada topan kau temui
ikan dan udang menghampiri dirimu

Syair lagu Kolam Susu seolah mengingkari kenyataan. Bagaikan sebuah halusinasi yang hendak membodohi imajinasi kita semua. Lautan bukan kolam susu seperti kata lagu Koes Plus, dulu. Kail dan jala kadangkala tidak cukup menghidupi kaum nelayan yang masih banyak hidup di bawah garis kemiskinan.

Di laut, bila angin ribut, mereka kerap menantang maut: menghadapi badai topan yang mengamuk. Tapi nelayan harus terus bertarung nyawa demi menghidupi keluarga. Juga tidak selamanya ikan dan udang datang menghampiri mata kail yang dipasang umpan.

Nelayan pun tidak selamanya mencari ikan. Contohnya Azis, umurnya 33 tahun. Dia tinggal di Pulau Barrang Caddi, Makassar, Sulawesi Selatan.

Dia lebih suka menangkap gurita. Sehari-hari di bawah ombak tenang, angin baik, dan cuaca cerah, dapat dia tangkap 10 sampai 15 kilogram gurita. “Ada pengepul di pulau. Saya jual ke mereka Rp30 ribu per kilogram,” katanya.

Gurita dia cari di perairan sekitar pulau tempat tinggalnya. Perburuannya dimulai kala fajar menyingsing pukul lima pagi hingga siang pukul 11 sebelum matahari naik ke puncak langit. Di atas perahu Katinting, Azis memandang ke laut lepas sambil berdiri gagah mengintai mangsa laksana Sinbad Si Pelaut yang legendaris.Boneka kepiting timah-foto Arpan Rachman

Tanpa teman, dia berburu, selama enam jam penuh. Menaiki perahu tradisional yang banyak dimiliki nelayan asal Bugis-Makassar. Katinting, bodinya panjang dan berbadan ramping. Baling-baling kecil di buritan perahu yang berputar dengan tenaga solar seolah musik instrumental yang mengiringi pelayarannya mengarungi riak gelombang Selat Makassar.

Gurita tak perlu dipancing dengan umpan atau cacing. Menangkapnya hanya perlu melemparkan kepiting palsu yang terbuat dari timah. Beratnya 1,6 kilogram, sehingga langsung tenggelam di dasar laut setelah disambitkan. Boneka kepiting timah itu memiliki enam kaki yang dipasangi besi bengkok berujung runcing persis mata pancing. Dan diikat tali nilon yang digenggam erat di tangan. Bila gurita “memakannya” Azis bergerak menarik tali, sang gurita sudah terjerat tak bisa lari.

“Gurita suka makan kepiting batu yang bersembunyi di sela-sela batu di dasar laut. Jadi, kami buat ini kepiting-kepitingan yang mirip kepiting batu,” ujarnya.

Hidupnya di sela bebatuan di dasar lautlah yang membuat kepiting jenis itu disebut “kepiting batu”. Dan gurita biasa memangsa kepiting batu memang.

Tinggal di Pulau Barrang Caddi, menjadi nelayan, itulah hidup Azis. Pulau itu berada dalam Kepulauan Spermonde yang berjumlah 120 gugusan pulau dan berserakan di sepanjang sisi luar Selat Makassar. Letaknya di koordinat 50 4’ 25.272” Lintang Selatan dan 119o 19’ 14.373” Bujur Timur. Wilayah administrasinya termasuk dalam kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan.

Banyak wisatawan sering mampir ke sana sekadar berenang di pantainya atau menuju beberapa titik yang eksotik untuk menyelam. Dermaga pulau ini dapat dicapai dalam 15 menit berlayar dari Pelabuhan Kayu Bangkoa, Makassar. Perahu hilir-mudik membawa penumpang melintasi selat, setiap hari. Ongkosnya hanya Rp15 ribu per orang.

Nelayan di tepi Selat Makassar-foto Arpan RachmanTampak di dekat pantai, beberapa penduduk telah mendirikan galangan, membuat perahu sendiri buat dijual. Mereka menemukan teknik baru merekatkan bilah-bilah papan dan menyatukannya sebagai badan perahu supaya tidak lekas bocor: mencampurkan serat seluloid dengan lem. Serat dan lemnya dibeli dari Surabaya. Campuran lem-seluloid itu ditempel ke sela bilah-bilah papan supaya terekat menyatu tanpa celah.

Di bagian selatan pulau telah berdiri kilang. Sufri Laude aktivis sosial yang sejak lama mendampingi penduduk Pulau Barrang Caddi dan sering berkelana ke berbagai kawasan pesisir di Indonesia, berinisiatif membangun instalasi penyulingan air bersih. Niatnya sangat mulia agar para penduduk Pulau Barrang Caddi tidak lagi tergantung pada air bersih yang dibeli dari Makassar. Kilang-kilang penyulingan air bersih itu sudah diinstal, proses menyuling air laut menjadi air tawar tinggal menghitung hari.

Dan Azis terus melaut. Memburu gurita bukan di kolam susu. Bersama boneka kepiting timah yang setia. Ia tentu tak mau menyanyikan lagu Koes Plus itu lagi.

 

Catatan: Artikel ini pertama kali dimuat di BaKTINews 126 edisi Juni-Juli 2016 dan dipublikasikan ulang dengan berbagai perubahan.

Sumber foto: Arpan Rachman

Tentang Penulis

Arpan Rachman

Arpan Rachman

Seorang penulis relawan, pencinta kucing kampung dan sepakbola.

Tinggalkan komentar