Pangan

Sebagai Negara Agraris Kaya, Indonesia Masih Impor Buah

buah

Setiap tanggal 1 Juli, dunia memperingati Hari Buah Internasional. Peringatan ini dirayakan pertama kali tahun 2007 di Berlin, Jerman. Ide utama perayaan Hari Buah adalah untuk berbagi buah dan sayur dengan sesama dalam sebuah hidangan, demi terjalinnya solidaritas dan menciptakan pertukaran budaya.

Khusus bagi Indonesia yang kaya akan buah-buahan tropis, buah-buahan Nusantara menghadapi tantangan dalam untuk dikembangkan secara swasembada.

Indonesia merupakan negara agraris yang kaya buah-buahan. Indonesia bahkan merupakan salah satu produsen buah terbesar di dunia. Tapi sayangnya, orang Indonesia masih jarang makan buah, jauh dari standar yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Pola konsumsi buah dan sayur Indonesia ternyata rendah. WHO merekomendasikan warga dunia untuk makan buah secara teratur minimal 65 kg/kapita/tahun. Rata-rata, tingkat konsumsi buah dan sayur orang Indonesia sekitar 30 kg/kapita/tahun atau kurang dari 50 gram per hari. Jumlah itu kira-kira setara dengan setengah buah apel ukuran sedang.

Jika dibandingkan dengan orang Eropa yang mengonsumsi buah lebih dari 130 kg/kapita/tahun, Indonesia sangat jauh tertinggal. Rata-rata orang Indonesia belum memprioritaskan makan buah seperti makan nasi. Buah tak kalah pentingnya dengan nasi, bahkan sebenarnya lebih sehat. Ini membuat kondisi kesehatan masyarakat Indonesia masuk dalam salah satu negara dengan pola makan tidak sehat.

Banyak sekali manfaat yang diperoleh dengan mengonsumsi buah secara teratur. Menurut WHO ada sekitar 1,7 juta kematian di seluruh dunia disebabkan rendahnya konsumsi buah dan sayuran. Buah kaya akan serat, vitamin, mineral dan yang terpenting adalah zat warna buah (phytochemical). Phytochemical sangat penting sebagai antioksidan yang dapat menangkal segala macam penyakit, terutama penyakit degeneratif seperti kanker, jantung dan stroke.

Daya beli juga menjadi alasan. Menurut sebagian orang buah-buahan itu harganya mahal. Indonesia masih menjadi pengimpor buah naga dari Vietnam, jeruk dari Australia, durian dari Thailand, pir dari Tiongkok, anggur dari Amerika, dan lain-lain.

Sebagai negara agraris yang kaya, Indonesia belum mampu menghasilkan buah-buahan yang memadai bagi kebutuhan masyarakatnya. Impor buah dan sayur sebaiknya bisa ditekan dengan produksi yang ada dalam negeri.

Regulasi impor buah dan sayur di Indonesia tidak berpihak pada petani nasional. Buah dan sayur dari luar dengan mudah dapat masuk ke Indonesia. Memang sampai saat ini sepertinya kita masih kalah dalam persaingan bahkan dengan negara tetangga.

Indonesia sebagai negara beriklim tropis dengan segala potensi yang ada masih bermimpi untuk menghasilkan buah-buahan kualitas terbaik untuk mengedepankan buah-buahan lokal. Bagaimana mau menuju swasembada buah nasional dan mengekspornya sampai penjuru dunia? Selamat Hari Buah Sedunia.

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar