Hasil Laut

Membangun Natuna untuk Kesejahteraan Rakyat

nelayan

Selama ini nelayan tradisional tidak pernah diberikan izin menangkap ikan di Natuna, Kepulauan Riau. Izin selalu diberikan ke kapal berbendera asing atau kapal yang pura-pura berbendera Indonesia namun sebetulnya kapal asing.

Kesempatan lebih besar semestinya diberikan untuk nelayan lokal khususnya yang berasal dari Pantai Utara Jawa. ‎Di laut utara Jawa, Banten, Pati, Jepara, Jawa Timur banyak kapal kayu tradisional yang bobotnya lebih 30 ton menjangkau 100 mil‎ lebih. Selama ini tidak diberikan izin untuk menangkap ikan di Kepalauan Natuna oleh rezim lama. Rezim lama selalu memberi izin kepada asing, nelayan kayu tradisional tidak diberikan izin.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya, Rizal Ramli, telah meminta Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk menyuntik modal pada perusahaan yang bergerak di sektor perikanan. Supaya tangkapan nelayan lokal bisa diserap secara maksimal oleh perusahaan nasional. Menteri BUMN harus memfasilitasi modal kerja da‎n investasi perusahaan perikanan nasional yang betul-betul nasional. Bukan ecek-ecek, bukan berbendera Indonesia kapal milik asing.

Natuna sendiri memiliki potensi yang cukup besar namun sampai saat ini belum dikelola dengan maksimal. Pemerintah bisa mengembangkan potensi yang ada di Kepulauan Natuna menjadi kota perikanan.

Pemerintah berencana untuk membangun pusat pelelangan ikan di Kepulauan Natuna seperti halnya Tokyo Fish Market di Jepang. Fish market paling hebat di Tokyo sendiri kebanyakan ikan dari Indonesia. Dengan membangun pusat pelelangan ikan di Natuna maka masyarakat internasional yang mencari ikan akan datang ke Natuna.

Selain itu, untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat di Natuna, kepulauan ini punya potensi menjadi pusat pariwisata. Kepulauan Natuna dan Anambas itu indah sekali. Pantainya betul-betul virgin, natural, dan pasirnya putih. Bisa dikembangkan menjadi pusat turisme dan pusat dari yacht-yacht bahkan bisa lebih dahsyat dari Maldives.

Presiden Jokowi sendiri memiliki keinginan terkait pengembangan di Natuna, Kepulauan Riau. Terkait pengembangan industri perikanan, mendorong dan mempercepat sehingga bisa mendatangkan manfaat, sebab produksi di sektor kelautan dan perikanan di Natuna hanya sebesar 8,9% dari potensi yang ada.  Untuk sektor migas, dari 16 blok migas yang ada di Natuna, baru 5 blok saja yang diproduksi. Sementara 7 blok masih tahap eksplorasi dan 4 blok dalam proses terminasi.

Untuk merealisasikan ini semua, Natuna sebagai pulau terdepan perlu memiliki pertahanan yang kuat. Meningkatkan patroli penjagaan di kawasan Natuna dan membangun serta memperbaiki beberapa infrastruktur.

 

Sumber foto: antaranews

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar