Lain-Lain

China Selatan Lautan Asap Cerutu

Fidel Ramos

…the sound of the natural tones of the sea.

big waves never give up, running from the south…

NYANYIAN grup musik asal Yogya, The Cloves and The Tobacco, mengingatkan Indonesia agar siap siaga menghadapi ketegangan di Laut China Selatan. Menyusul putusan Mahkamah Arbitrase Internasional yang menolak klaim China atas kawasan perairan seluas 3,5 juta km² itu.

Mahkamah yang bersidang di Den Haag menyatakan, tak ada dasar hukum bagi China untuk mengklaim hak-hak historis terhadap sumber daya dalam wilayah laut yang berada dalam sembilan garis putus-putus. Garis imajiner di Laut China Selatan buatan China itu mengangkangi ZEE (zona ekonomi eksklusif) milik Taiwan, Vietnam, Malaysia, dan Filipina.

Filipina yang merasa paling keberatan. Mereka menggugat China ke Mahkamah Arbitrase Internasional. Tapi masalahnya kini, giliran China membangkang putusan itu.

Harian The Economist menyentil urusan ini sebagai permainan diplomasi, manuver hukum, penempatan posisi, dan penciptaan fakta di kawasan perairan yang dimainkan secara khusus oleh kekuatan-kekuatan non-militer sejak setahun lalu. Sentilan itu mengingatkan pada sosok Fidel Ramos…

Mantan Presiden Filipina itu saya temui di Makassar, tiga tahun silam. Dia kelihatan awet muda saat menyedot cerutu di tengah sidang pleno dalam sebuah konferensi internasional.

Melihat dia menikmati aroma asap cerutu, menyadarkan kita tentang hidup gemilang yang panjang. Zat-zat kimiawi alami dalam tembakau tentu menyehatkan, membuat metabolisme tubuhnya bertambah aktif. Wajahnya tampak segar, gerakannya masih lincah. Padahal usianya sudah hampir 90 tahun!

Ia memperingatkan negara-negara di kawasan Asia-Pasifik bekerja sama dalam takaran saling menguntungkan. Katanya, investasi besar untuk mengurus organisasi militer, terutama penggunaan senjata mematikan yang mengganggu perdamaian, sama sekali tak perlu.

Ia berucap lantang ketika saya diberkati momen berharga untuk mengajaknya bicara. Imbauannya tegas agar negara-negara besar seperti China dan Amerika Serikat bisa bekerja sama dengan negara-negara kecil seperti Kamboja dan Filipina.

Diuraikannya, jika semua kekuatan setuju untuk memberlakukan nilai-nilai perdamaian, harmoni, kebijaksanaan, persahabatan, hubungan bertetangga yang baik, maka kita akan dapat berinvestasi lebih banyak untuk anggaran energi nasional. Guna menciptakan bukan keseimbangan kekuasaan, tetapi keseimbangan yang saling menguntungkan. Takaran saling menguntungkan bukan dengan menyeimbangkan kekuatan militer.

Kata-katanya layaknya kata mutiara untuk menyemangati para patriot yang memperjuangkan kedaulatan perdamaian. “Tangan” Ramos seolah menggaruk angkasa China Selatan kini berkepul menjadi lautan asap cerutu.

Indonesia pun harus berdiri di garis depan. Di luar muka bumi yang berbentuk daratan, Laut China Selatan merupakan perairan di tepi Samudera Pasifik, yang menjadi bagian yang bersambung tak terpisahkan dengan Selat Karimata dan Selat Malaka milik kita.

Seperti Popeye, Presiden Jokowi harus menunjukkan ada cangklong ajaib di sela bibirnya yang santun. Semua bahtera kesatria Nusantara sedang menanti komandonya untuk maju mengusir lanun.

Dan coba dengar lagi lagu punk ala Celtic karya The Cloves and The Tobacco, ini:

…bunyi nada alam dari laut

ombak besar yang pantang menyerah,

telah mengalun dari selatan…

***

 

Referensi:

  1. https://pca-cpa.org/en/news/pca-press-release-the-south-china-sea-arbitration-the-republic-of-the-philippines-v-the-peoples-republic-of-china/
  1. http://www.economist.com/news/asia/21659771-asian-coastguards-are-front-line-struggle-check-china-small-reefs-big-problems?fsrc=scn/fb/te/pe/ed/smallreefsbigproblems
  1. https://www.youtube.com/watch?v=udeIL2S9egc

 

Sumber foto: Arpan Rachman

Tentang Penulis

Arpan Rachman

Arpan Rachman

Seorang penulis relawan, pencinta kucing kampung dan sepakbola.

Tinggalkan komentar