Industri Hasil Tembakau

Menancapkan Fondasi Ekonomi yang Kokoh Jauh Sebelum Republik Terbentuk

cengkeh

Industri hasil tembakau dan cengkeh di Indonesia bukanlah perjalanan yang singkat, melainkan sudah melampaui seabad. Lintasan perjalanannya sangatlah panjang dan mengandung kekhasan lokal yang mencirikan kaitan identitasnya dengan Nusantara, keterkaitan hulu ke hilir yang kuat, dan dinamikanya yang terus menyertainya sampai sekarang.

Sebelum kretek muncul, paling tua adalah perladangan cengkeh yang mengobarkan motif kongsi dagang VOC dalam mengeruk untung ekonomi dengan melakukan monopoli dagang untuk menguasai aliran cengkeh di Maluku, bahkan dengan cara brutal melakukan pembuangan, pengusiran dan pembantaian terhadap penduduk, serta mempekerjakan tenaga mereka yang ditaklukkan sebagai budak.

Kemudian, disusul dengan penanaman tembakau secara besar-besaran yang berlangsung secara ekstra-ekonomi di bawah program ekonomi raksasa Tanam Paksa (Cultuur Stelsel) selama 1830-1870 yang menyedot demikian banyak surplus yang diangkut ke Eropa.

Seiring bangkrutnya VOC, tanaman cengkeh yang semula berasal dari gugusan pulau-pulau kecil di Kepulauan Maluku, menemukan lahan yang cocok di jazirah Sulawesi Utara itu. Belakangan tanaman ini merupakan persilangan antara cengkeh Ternate dengan cengkeh asal Madagaskar.

Pada awal abad ke-20, roda perekonomian Minahasa yang berbasis cengkeh bangkit kembali beriringan dengan tumbuhnya industri kretek di Jawa. Namun pada 1990-an, kejayaannya terganggu gara-gara kebijakan monopoli cengkeh rejim Soeharto Orde Baru yang mempersembahkannya kepada BPPC.

Kemudian, seiring berakhirnya regim ini produksi cengkeh kembali bangkit, bahkan menjadi penyumbang terbesar bagi pendapatan pemerintah maupun kesejahteraan warga setempat.

Industri rokok kretek dirintis pertama oleh Haji Djamhari sekitar 1870-1880, seiring berakhirnya Tanam Paksa. Kemudian dengan kemunculan perintis berikutnya, pada 1906, Haji Nitisemito yang juga berasal dari Kudus, dengan menggenjot dan memproduksi kretek ini sampai memperoleh tempat yang lebih meyakinkan di pasar domestik.

Memproduksi kretek pun menjadi kebanggaan, sehingga mendorong lahirnya perusahaan rokok, baik bersekala kecil maupun menengah dan besar di wilayah Pantura tengah. Selain milik Nitisemito ada juga pusat industri rokok di Jawa Vorstenlande (kekeratonan Surakarta dan Yogyakarta) dan Lembah Brantas (Kediri, Tulungagung, Blitar, dan Malang). Pada periode awal pertumbuhan, industri kretek yang dimulai dari Kudus, menyebar pula ke Surabaya sejak 1913.

Dengan demikian, jauh sebelum negara Republik Indonesia (RI) terbentuk, industri pengolahan cengkeh, tembakau dan kretek sudah lebih dulu memainkan perannya dalam mengembangkan kreasi dan daya cipta kebudayaan maupun menancapkan fondasi ekonominya yang kokoh.

 

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar