Industri Hasil Tembakau

Pertumbuhan Lahan Cengkeh dan Tembakau Terus Meningkat

tembakau

Sejak menjadi salah satu komoditi ekspor di masa kolonial Hindia Belanda, penanaman tembakau mengalami peningkatan. Apalagi ketika industri rokok mulai tumbuh, maka permintaan tembakau domestik juga bertambah. Penanaman tembakau pun menyebar di banyak daerah, sehingga industri pertembakauan menempati kedudukan penting dalam perekonomian baik di masa kolonial maupun pasca-kolonial dan sampai sekarang.

Perladangan tembakau terdapat di 13 provinsi. Sedangkan perkebunan cengkeh, banyak terdapat di Maluku dan Sulawesi Utara. Namun demikian, provinsi lain seperti Aceh, Sumatera Barat, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah, juga menghasilkan cengkeh.

Dulu, penguasaan atas panen cengkeh juga ibarat salah satu “tambang emas” bagi kapal-kapal dagang Belanda untuk memonopoli perdagangan.

Dengan meningkatnya pertumbuhan lahan untuk ladang-ladang tembakau, perputaran perdagangan tembakau ditujukan bukan hanya untuk ekspor, namun juga untuk memasok sejumlah sentra industri rokok, khususnya kretek di Jawa yang mengalami perkembangan pesat.

Secara dominan, pasokan tembakau, terutama untuk permintaan atau kebutuhan dalam negeri, berasal dari hasil panen dari ladang-ladang tembakau yang dikelola secara swadaya oleh rakyat atau penduduk setempat, terutama terkonsentrasi di Jateng dan Jatim. Sedangkan perkebunan tembakau raksasa dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara milik negara (BUMN) seperti perkebunan tembakau di Deli Serdang, Sumatera Utara yang lebih bertujuan ekspor.

Realisasi ekspor produk tembakau provinsi Sumut mampu tumbuh 1.900% pada kuartal I 2012 mencapai 572 ribu kilogram (kg) atau senilai 2,860 juta dolar AS. Sementara itu, nilai ekspor tembakau Sumut sepanjang Januari-Mei 2012 bernilai 2,659 juta dolar AS, yang berarti melonjak sekitar 1.114,16% dibandingkan tahun 2011 yang hanya US$ 219.000 dengan volume 58 ton.

Selama peroide Januari-November 2011, nilai ekspor tembakau Indonesia mengalami kenaikan 4,59%. Memang pasokan terbatas, namun larangan impor tembakau dari beberapa negara justru menjadi pendongkrak harga. BPS mengeluarkan data yang menyajikan nilai ekspor tembakau untuk periode ini mencapai 652,2 juta dolar AS atau naik 4,59% dibandingkan tahun 2010 yang hanya US$ 623,5 juta dolar AS.

Sejak munculnya kretek sebagai rokok khas produksi lokal itu kian memperjelas hubungan hubungan segitiga antara tembakau, cengkeh, dan kretek. Tidak ada kretek tanpa tembakau dan cengkeh. Bahkan, para petani dan buruh panen cengkeh sempat menikmati hasil yang gemilang karena hasil panen mereka diserap oleh banyak industri kretek sampai akhir dekade 1980-an.

Karena keuntungan yang besar, maka pernah pada suatu periode, Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto bermain dan merebut ruang (pasar) dalam bisnis cengkeh. Periode 1990-an inilah yang menandai kehancuran perladangan dan usaha kecil cengkeh yang dikelola para petani disebabkan oleh keberadaan dan sepak terjang BPPC.

Pada dasarnya, sebaran perladangan tembakau yang terus meningkat. Peningkatan ini tidak lepas dari hubungan rantai produksinya yang sangat erat dengan industri rokok. Sejak kretek mulai diterima sebagai salah satu rokok yang mengandung cengkeh dalam pasaran dalam negeri, hubungan segitiga – tembakau, cengkeh, dan kretek – menjadi tidak terelakkan dalam mata rantai produksinya. Sedangkan sebagai komoditas, ketiga komoditas itu membentuk suatu rangkaian dan lintasan perdagangan baik untuk memenuhi permintaan domestik maupun ekspor.

Namun, sesudah berakhirnya era BPPC yang kelam, kondisi ekonomi petani cengkeh mengalami kebangkitan seiring melesatnya kretek mendominasi pasaran nasional atau domestik, bahkan menembus pasar ekspor.

 

(Dikutip dari Suryadi Radjab, Dampak Pengendalian Tembakau terhadap Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya, h.34-37.)

Sumber foto: Eko Susanto

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar