Mineral

Keserakahan Manusia Merusak Alam Kendeng

Gus Mus

Saat mengunjungi tenda perjuangan yang didirikan warga penolak pendirian pabrik semen PT Semen Indonesia di Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah (Sabtu, 28/11), K.H. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) bersama Romo Jadmiko dari Gereja Katolik Santo Petrus menyampaikan bahwa apa yang terjadi pada alam pegunungan Kendeng saat ini membuktikan ulah dan keserakahan manusia.

Tokoh Nahdlatul Ulama itu pun menyampaikan terima kasih atas perjuangan warga dalam melestarikan lingkungan dan alam. Gus Mus menambahkan dirinya akan terus mendukung perjuangan menolak pabrik semen PT Semen Indonesia di Pegunungan Kendeng, Rembang.

Kedatangan Gus Mus merupakan salah satu bentuk dukungan atas perlawanan yang dilakukan warga. Keberadaan pabrik semen selain menyalahi aturan fiqih karena membawa banyak dampak buruk bagi warga dan lingkungan, juga telah melanggar Peraturan Daerah Rembang Nomor 14 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Rembang 2011–2031.

Tanggal 16 Juni 2014, bertepatan dengan peletakan batu pertama pendirian pabrik PT Semen Indonesia, ratusan warga yang didominasi kaum perempuan mendatangi tapak pabrik dan mendirikan tenda penolakan pabrik semen. Telah satu tahun lebih ibu-ibu Rembang tetap bertahan di tenda demi menjaga kelestarian lingkungannya. Caping, lesung, dan alu, menjadi simbol ketegaran dalam mempertahankan bumi pertiwi. Untuk membela hak mereka dan generasi mendatang, perubahan cuaca serta intimidasi dari oknum birokrasi maupun oknum aparat tak membuat ibu-ibu Rembang gentar menolak tambang semen.

Di Rembang, selain pabrik semen dan pertambangan batu kapur PT Semen Indonesia, ada lebih 10 tambang beroperasi. Berbagai upaya untuk menolak pendirian pabrik semen telah dilakukan. Beberapa waktu lalu, warga penolak pertambangan bahkan menantang pihak perusahaan dan Pemerintah Daerah untuk hadir membuktikan berbagai kebohongan dan kesewenang-wenangan yang dilakukan pihak perusahaan. Upaya itu gagal karena pihak perusahaan tidak pernah merespons.

Masyarakat di sekitar Pegunungan Kendeng dianugerahi kesuburan lahan yang menjadi surga bagi petani. Gunung adalah ibu yang harus dihormati. Di gunung tersimpan sumber air kehidupan masyarakat.

Sikap pemerintah tidak sama seperti ibu-ibu Rembang. Di lapangan terjadi perampasan hak rakyat terkait rencana pembangunan pabrik semen. Kebutuhan lahan yang sangat luas untuk perusahaan-perusahaan semen berpotensi menghilangkan lahan pertanian. Kaum tani kehilangan lapangan pekerjaan. Kondisi ini akan berlanjut menjadi darurat Jawa karena keseimbangan ekosistem alamiah terganggu. Akhirnya, bencana ekologis menghancurkan ketahanan pangan nasional.

Selain kontraproduktif dengan program ketahanan pangan pemerintah, penambangan juga akan mengancam cekungan air tanah (CAT) yang merupakan reservoir air guna menjamin pasokan air bagi pertanian maupun kebutuhan masyarakat.

Perlu penyelamatan Jawa secara umum dan kawasan karst. Melestarikan sejarah dan lingkungan berarti menjaga kesinambungan kehidupan kini dan masa depan. [B]

 

Sumber gambar: JMPPK

Tentang Penulis

Bambang Trisunu

Bambang Trisunu

Tembakau, kopi, dan motor tua.

Tinggalkan komentar