Pangan

Awas Rempah Palsu Mulai Beredar

rempah

Kekayaan dan keragaman varian bumbu dan rempah-rempah Indonesia memang tak perlu diragukan lagi. Dari Sabang sampai Merauke terdapat berbagai rempah yang khas. Bumbu-bumbu rempah ini bisa diolah menjadi aneka makanan yang istimewa.

Sejak abad ke-13, rempah-rempah merupakan komoditi penting yang mempunyai nilai jual sangat tinggi. Mendorong bangsa-bangsa Eropa mencari harta kekayaan ini menjelajahi samudera. Bangsa Eropa dikenal sebagai penjelajah, terutama untuk menemukan daerah-daerah baru. Rute pelayaran dari Eropa ke Samudera Hindia melalui Tanjung Harapan yang memutari Afrika dipelopori oleh penjelajah dan navigator Portugis Vasco da Gama pada tahun 1498. Terciptalah rute maritim baru untuk perdagangan rempah-rempah.

Mereka berlomba-lomba. Meyakini bahwa jika berlayar ke satu arah, maka mereka akan kembali ke tempat semula. Awalnya, tujuan kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia hanya untuk membeli rempah-rempah. Namun, dengan semakin meningkatnya kebutuhan industri di Eropa akan rempah-rempah, mereka mengklaim daerah-daerah yang mereka kunjungi sebagai daerah kekuasaannya. Di tempat-tempat ini, bangsa Eropa memonopoli perdagangan rempah-rempah dan mengeruk kekayaan alam sebanyak mungkin.

Dengan memonopoli perdagangan rempah-rempah, bangsa Eropa menjadi satu-satunya pembeli bahan-bahan ini. Akibatnya, harga bahan-bahan ini pun sangat ditentukan oleh mereka. Untuk memperoleh hak monopoli perdagangan ini, bangsa Eropa tidak jarang melakukan pemaksaan. Penguasaan dilakukan terhadap penguasa setempat melalui suatu perjanjian yang umumnya menguntungkan bangsa Eropa.

Perdagangan rempah-rempah memang mendorong ekonomi dunia. Maka tak heran jika nilai rempah-rempah di pasaran sangat tinggi. Lalu muncullah jenis rempah-rempah buatan atau palsu.

Juni lalu, merica atau lada putih palsu beredar pesat di berbagai daerah. Merica palsu tersebut diduga terbuat dari bahan baku semen. Butiran merica palsu ini telah beredar di beberapa daerah, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Garut, Surabaya, Klaten, Bondowoso, dan beberapa daerah lainnya.

Bukan hanya merica, ketumbar pun dipalsukan dengan memakai bahan zat kimia hidrogen peroksida (H2O2) dan soda api (Na2CO3). Hidrogen peroksida adalah cairan bening yang biasanya digunakan sebagai pemutih tekstil, desinfektan, oksidator, dan bahan bakar roket. Sementara soda api atau natrium hidroksida biasa digunakan dalam proses produksi bubur kayu dan kertas, tekstil, air minum, dan deterjen.

Pada 9 Juli 2015, Subdirektorat Industri dan Perdagangan Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Mujiyono, menangkap pengoplos ketumbar. Polisi menyita 25 kilogram ketumbar oplosan dan 25 ketumbar asli dari pabrik FG yang berada di pergudangan Pantai Indah Dadap, Kosambi, Tangerang. Selain itu, polisi juga menyita 35 liter hidrogen peroksida dan 40 kilogram soda api serta peralatan pengoplos lainnya.

Atas perbuatannya, FG dikenai Pasal 136 UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, Pasal 110 UU Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan, dan Pasal 62 UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.

Menjelang Hari Raya Idul Fitri, masyarakat harus lebih teliti dalam memilih bumbu rempah-rempah dan bahan pokok lainnya guna mengantisipasi maraknya jenis rempah-rempah palsu untuk dikonsumsi. Kandungan zat-zat kimia yang ada di dalamnya dapat merusak jaringan organ tubuh dan menyebabkan kematian.

Sumber gambar: pixabay

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar