Lain-Lain

Serbuan Waralaba Asing Memecah Belah Masyarakat

waralaba

Ada ribuan merek waralaba (ritel) beroperasi di Indonesia. Bisnis ritel di Indonesia dipastikan akan semakin ramai. Selain pemain dalam negeri, pelaku waralaba asing terus menyerbu pasar di Indonesia. Sebanyak 60% waralaba sudah dimiliki asing.

Desember 2011, pelaku waralaba Indonesia kedatangan rombongan pengusaha waralaba dari Amerika Serikat (AS). Saat itu, ada 16 pelaku waralaba asal AS menggaet mitra di Indonesia, salah satunya waralaba restoran siap saji Johnny Rockets. Perusahaan yang dikenal dengan menu hamburger ini sukses menggandeng Sahid Group untuk membuka gerai perdana di Kuta, Bali.

Dua bulan berselang, Family Mart, waralaba asal Jepang, mengumumkan rencananya membuka waralaba di Indonesia. Ritel terbesar di Jepang itu berencana membuka 300 gerai di Indonesia tahun 2015 ini.

Tak lama kemudian, tepatnya Maret 2012, industri waralaba kembali mendapat kejutan dari PT Hero Supermarket, Tbk. Perusahaan ritel ini memutuskan membawa waralaba mebel IKEA asal Swedia di Indonesia. IKEA sudah beroperasi di kawasan Tangerang sejak 2014 lalu. Hero berniat membuka gerai IKEA lainnya di Indonesia mulai 2014 hingga 2021 mendatang. “Pengusaha waralaba dunia memang melirik Indonesia sebagai potensi pasar yang besar,” ungkap Levita Supit, Ketua Waralaba dan Lisensi Indonesia (Wali), salah satu asosiasi waralaba di Indonesia.

Belum lagi nama-nama seperti Carrefour yang memiliki supermarket, hypermarket, hingga mini market. Alfamart, waralaba yang kini mempunyai gerai di hampir setiap kecamatan di kota besar, 75% sahamnya dimiliki perusahaan asal Perancis ini.

Menurut Levita, banyak waralaba asing datang ke Indonesia tapi luput dari liputan media massa. Waralaba asing tersebut cenderung membuat kesepakatan bisnis tanpa diketahui publik. “Jumlahnya cukup banyak dan memang mereka tidak mau dipublikasikan,” terang Levita.

Ketua Dewan Pengarah Waralaba & Lisensi Indonesia (Wali), Amir Karamoy, mengatakan bahwa bila dilihat dari jenis/bidang usaha, waralaba makanan/minuman di Indonesia mencapai 49,6%, ritel 24%, dan pendidikan 20,8%. Bidang-bidang usaha tersebut, terbesar dikuasai oleh merek asing. Ini menunjukkan bahwa pasar Indonesia didominasi oleh pemberi waralaba asing.

Menjamurnya jaringan pasar modern yang bergerak di bidang bisnis ritel dikhawatirkan akan menjadi ancaman serius keberadaan pasar tradisional. Kehadiran pasar modern, dengan sistem waralaba (franchise), sudah merambah hingga perkampungan. Berpotensi meminggirkan keberadaan pasar tradisional. Bahkan tidak mustahil kelak akan memusnahkan pasar tradisional. Masyarakat sebagai konsumen tentu akan memilih pasar modern yang memiliki daya saing harga, fasilitas modern, dan dekat dengan lingkungan tempat tinggal masyarakat. Di sisi lain, tidak sedikit masyarakat masih menggantungkan hidup sebagai pelaku usaha rumahan dan pasar tradisional. Masyarakat kini dipaksa untuk berhadapan satu sama lain. Mirip dengan yang dahulu dilakukan kolonial imperialis pada kita, memecah belah, divide et impera.

Sumber gambar: wikipedia

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar