Industri Hasil Tembakau

RUU Pertembakauan Akomodasi Semua Aspek

tembakau

Kekhawatiran sekelompok masyarakat yang menganggap bahwa RUU Pertembakauan lebih mementingkan industri rokok sangat tidak beralasan. Pasalnya, RUU Pertembakauan juga mengatur aspek-aspek lain seperti masalah kesehatan, aspek perekonomian, kemandirian bangsa, dan perlindungan petani tembakau.

Dalam RUU Pertembakauan, industri rokok memang sangat banyak diatur. Tapi ini merupakan sebuah keharusan karena di dalamnya terdapat industri rokok yang padat karya. Kemudian, salah satu fokus utama yang dibahas Baleg untuk RUU Pertembakauan juga berkaitan dengan isu kesehatan. Dibahasnya isu kesehatan karena isu ini disorot sampai ke tingkat internasional, khususnya terkait rokok kretek yang disebut sebagai rokok asli Indonesia.

Sebagai salah satu produk turunan tembakau, rokok kretek kerap dianggap masyarakat internasional berdampak buruk bagi kesehatan ketimbang rokok jenis lain. Kretek sebagai warisan budaya nusantara, merupakan perlawanan wacana terhadap propaganda kapitalisme global, yang ingin mengendalikan tembakau melalui produk politik, baik berupa undang-undang maupun regulasi lainnya. Oleh karenanya, walau rokok kretek sering dinilai merusak kesehatan namun jangan sampai industri rokok kretek nasional gulung tikar.

RUU Pertembakauan pun mengatur petani tembakau agar para petani terlindungi. Hal itu lantaran banyak petani yang menggantungkan hidupnya dari bertani tembakau. Dengan demikian, selain berisi ketentuan yang mengurangi dampak buruk yang diakibatkan oleh produk tembakau, RUU Pertembakauan juga melindungi petani.

“RUU Pertembakauan tidak hanya mengatur masalah kesehatan saja, tetapi lebih luas dari itu, lebih komprehensif,” ujar anggota Badan Legislatif dari Fraksi PKB, Abdul Malik Haramain.

Ketua Baleg, Ignatius Mulyono, tidak menampik RUU Pertembakauan menjadi masalah yang kompleks. Namun dia meminta agar RUU Pertembakauan tidak hanya dilihat dari satu sisi.

“Masalah pertembakauan, kami sudah catat hal-hal yang menjadi perhatian. Tapi kita perlu menghasilkan satu RUU yang mengcover seluruh masalah. Kita perlu perhatikan kesehatan masyarakat, tapi tetap memperhatikan kesejahteraan petani tembakau yang jumlahnya banyak,” ujar Mulyono.

Berbicara dampak kesehatan rokok, ia ingin semua pihak mengkaji secara komprehensif. Usaha menyehatkan masyarakat jangan sampai menjadi jalan kehancuran industri rokok lokal. Saat ini, Ignatius menyampaikan para penggiat kesehatan mesti mewaspadai kepentingan industri rokok asing masuk ke Indonesia.

Industri rokok lokal menyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia. Diperkirakan ada puluhan juta orang yang menggantungkan hidup di industri ini mulai dari petani tembakau, perajin rokok, hingga pedagang asongan. Bahkan, kata Ignatius, pendapatan negara dari industri rokok mencapai Rp 80 triliun setiap tahunnya.

Jadi jelas bahwa RUU Pertembakauan sangat akomodatif dengan melindungi segala aspek dan tidak hanya mewakili kepentingan kalangan industri.

 Sumber gambar: Eko Susanto via Flickr

Tentang Penulis

Membunuh Indonesia

Membunuh Indonesia

Redaksi Membunuh Indonesia mengumpulkan, mengarsipkan, dan memproduksi konten berupa artikel, dokumen, kajian ilmiah, dan sebagainya yang berkaitan dengan topik-topik ancaman kedaulatan ekonomi politik nasional.

Tinggalkan komentar